Home News Finance Transaksi Serba Online, Yuk Lindungi Data Pribadi Anda dari Kejahatan Siber dengan...

Transaksi Serba Online, Yuk Lindungi Data Pribadi Anda dari Kejahatan Siber dengan Melek Literasi

Jakarta, bukadikit.co- Di era digitalisasi, semua transaksi dimudahkan dengan internet. Transaksi begitu mudah dan cepat, proses jual-beli produk dan jasa tidak lagi membutuhkan waktu yang lama dan tanpa harus bertatap muka secara langsung. Dengan hanya mengandalkan smartphone atau gadget, semua hal bisa dilakukan secara online. Sehingga tidak heran jika banyak yang mengatakan “dunia berada di genggamanmu”. Namun, kemudahan dan kenyaman yang diberikan oleh teknologi sangat rentan dengan kejahatan siber.

Peretasan data pribadi marak terjadi. Penyalahgunaan data pribadi oleh oknum yang tidak bertanggung jawab menjadi tantangan tersendiri bagi semua pihak, terutama lembaga perbankan. Banyak data pribadi nasabah bocor dan bahkan diperjualbelikan. Hal ini dikarenakan perilaku konsumen di Indonesia yang ingin serba instan, serba mudah, serba cepat serta nyaman, tidak disertai dengan literasi dan pemahaman tentang dunia digital yang memadai. Penyalahgunaan data yang dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab akibat masih minimnya pengetahuan konsumen terhadap literasi keuangan era digital.

Direktur Literasi dan Edukasi Keuangan OJK, Horas V. M. Tarihoran pada acara workshop “Literasi Digital Perbankan Peduli Lindungi Data Pribadi” yang digelar secara virtual dan merupakan kerjasama antaraa BNI, OJK dan AMSI, Jumat (19/08/2022), mengungkapkan banyak kasus dari nasabah yang dilaporkan ke OJK karena kurangnya pemahaman masyarakat mengenai keuangan.

“Karena itu, OJK selaku regulator berkewajiban untuk memberikan edukasi dan melakukan perlidungan kepada nasabah selaku konsumen dengan menerbitkan regulasi yang tepat serta pengawasan yang cepat sehingga tidak menimbulkan dampak buruk dan paparan resiko kepada konsumen. Bahkan, akan berdampak pada ketidakpercayaan pasar dan penurunan inklusi di tengah-tengah masyarakat,” papar Horas di hadapan para peserta workshop.

Ia juga menambahkan, kepada lembaga jasa keuangan, OJK juga meminta agar memperkuat pertahanan keamanan (security ciber) agar tidak mudah dirasuki “malware” jahat yang pada akhirnya akan menimbulkan kerugian pada nasabah.

Kerugian nasabah atau konsumen di Indonesia akibat dari rendahnya tingkat pemahaman literasi dibuktikan dengan hasil riset hasil peringkat indeks keamanan siber di dunia. Ketua IEEE Computational Intelligence Society, Indonesia Chapter, Ketua Indonesia Neural Network Society (IdNNS) Sampoerna University Prof. Ir. Teddy Mantoro, MSc, PhD, SMIEEE mengatakan, tingkat literasi di Indonesia masih sangat rendah yaitu masih di posisi ke 24 secara global pada tahun 2021.

“Keamanan siber Indonesia secara global sangat rendah karena literasi rendah, harus benar-benar melek literasi. Perhatikan secara teliti,” ujarnya.

Foto: Pemimpin Divisi Manajemen Risiko Bank BNI, Rayendra Minarsa Goenawan

Sementara itu, pihak perbankan dalam hal ini Bank Negara Indonesia (BNI) menempatkan literasi sebagai garda utama dalam perlindungan data konsumen. Hanya saja, keamanan data tidak hanya menjadi tugas dan kewajiban dari lembaga keuangan. Lebih dari itu, nasabah selaku pemilik data juga harus mampu menjaga dengan baik pula. Salah satu caranya adalah dengan meningkatkan literasi dan pemahaman tentang dunia digital.

“Harus diakui bahwa transaksi digital sejak masa pandemi Covid-19 terus meningkat. Karena itu seharusnya berimbang antara penggunaan transaksi digital dengan literasi keamanan digital, sehingga tidak ada pihak yang merasa dirugikan,” jelas Pemimpin Divisi Manajemen Risiko Bank BNI, Rayendra Minarsa Goenawan.

Setidaknya ada dua kejahatan siber yang kerap menyerang nasabah perbankan, yakni skimming yang biasa dilakukan dengan cara pencurian data melalui kartu Anjungan Tunai Mandiri (ATM) dan kini yang lebih canggih lagi kejahatan melalui social engineering. Pelaku kejahatan dengan social engineering ini tergolong hebat, karena mampu memanipulasi kesadaran konsumen sehingga terbuai dengan tawaran yang disuguhkan.

“Social Engineering ini lagi marak. Ada yang bentuknya melalui pesan singkat “mamah minta pulsa, pinjam uang karena sedang dilanda musibah dan sebagainya,” ujar Rayendra.

Lebih jauh dikatakannya, social engineering biasanya muncul dalam tiga bentuk. Pertama, pelaku menemui nasabah kemudian mengaku sebagai pihak perbankan. Kedua, pelaku menghubungi nasabah melalui telepon kemudian mengaku dari pihak perbankan. Dan ketiga, pelaku menggunakan internet dengan menggunakan sosial media palsu dan email palsu dengan mengatasnamakan pihak perbankan.

Bagaimana agar terhindar dari kejahatan siber tersebut?, Rayendra memberikan beberapa tips bagi konsumen atau nasabah bank, yakni konsumen harus mampu menganalisa setiap informasi penawaran yang diterima. Baik dengan bertanya langsung kepada pihak perbankan atau mengecek keabsahan informasi tersebut melalui website resmi pihak jasa keuangan terkait.

Pihak nasabah juga jangan sampai mengobral data-data penting dirinya, semisal nomor handphone (HP), nomor induk kependudukan dan nomor kartu keluarga. Sebab, jangan sampai para pelaku kejahatan dunia maya itu berusaha melakukan kejahatan dengan menelusuri data-data tersebut.

“Dan lebih bahaya lagi para pelaku kejahatan itu mengirim malware ke perangkat HP yang digunakan, sehingga mereka dapat memantau data yang ada di HP itu,” kata Rendra.

Guna memberikan perlindungan bagi nasabah BNI telah menyiapkan berbagai langkah strategis. Mulai dengan menyediakan pusat pengaduan melalui BNI Contact Center (BCC) yang beroperasi 24 jam selama 1 minggu. Nasabah dapat menyampaikan keluhan melalui telepon 1500046, mengirim email bnicall@bni.co.id. atau bahkan mendatangi kantor cabang BNI terdekat.

Selain itu, BNI telah memiliki unit yang memantau transaksi nasabah dan menerima laporan pengaduan nasabah dalam 24 jam dalam 7 hari. BNI juga telah menjalankan fungsi fraud detection yang berfungsi mendeteksi aktivitas fraud secara real time.

Tak sampai di situ, BNI juga telah mengikuti aturan Bye Laws yang dirilis oleh Bank Indonesia. Bye Laws merupakan pedoman pelaksanaan pemblokiran rekening simpanan nasabah dan pengembalian dana nasabah dalam hal terjadinya indikasi tindak pidana. Bye Laws dipergunakan oleh Perbankan untuk keseragaman pelaksanaan dalam praktik Perbankan bagi bank peserta Bye Laws.

Tujuan utama dari Bye Laws adalah agar uang hasil kejahatan dapat segera diblokir dan dikembalikan ke nasabah.

“BNI terus berupaya untuk mematuhi arahan OJK sebagai pengawas perbankan untuk melakukan edukasi kepada nasabah terkait perlindungan data nasabah melalui berbagai channel,” tukasnya.

BNI mengimbau untuk nasabah selalu menjaga kerahasiaan informasi pribadi termasuk PIN dan OTP transaksi. Segera menghubungi call center bank bila kartu hilang, dicuri orang lain, atau terjadi kejanggalan dalam transaksi perbankan.

Nasabah pun diharap untuk tidak memberikan maupun meminjamkan kartu kredit maupun debit kepada siapapun. Lengkapi pula gawai telepon genggam dengan anti virus dan tidak menggunakan fasilitas WIFi publik dalam melakukan transaksi.

Daftarkan email atau SMS notifikasi transaksi dan melakukan pembaruan data kepada pihak bank bila ada perubahan data. Terakhir, menghindari transaksi melalui web yang tidak dikenal maupun pada merchant e-commerce yang tidak mengimplementasikan 3D secure.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Eksekutif Assosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), Adi Prasetya mengatakan, era digital ini membuat segala transaksi mudah dilakukan. Namun, sudah amankah transaksi anda?. Karena itu penguatan literasi keuangan digital perlu dilakukan.

“Apa sih yang ndak bisa dibeli lewat HP?, era digital saat ini beli cabe pun lewat HP,” ujar Adi Prasetyo. (*d)

Editor: Dwi

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Must Read

Perbankan Sambut Era Digital dan Web 3.0 Sebagai Tuntutan Zaman

JAKARTA, bukadikit.co- Suka atau tidak suka, saat ini dunia sedang memasuki babak baru dengan hadirnya Web 3.0. Adapun Web3 merupakan visi masa...

Inilah Daftar Media Daerah dan Nasional yang Meraih AMSI Awards 2022, Selamat!

JAKARTA, bukadikit.co- Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) menggelar award sebagai ajang penghargaan bagi media siber nasional dan media siber lokal terbaik. Event...

AMSI Bentuk Agency Iklan IDiA, Pastikan Konten dan Bisnisnya Sehat

JAKARTA, bukadikit.co- Guna membentuk ekosistem bisnis media yang sehat, Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) meluncurkan agency iklan dengan bendera PT Inisiatif Digital...

Huawei dan AMSI Jalin Sinergi Tingkatkan Kecakapan Digital Media Siber di Indonesia

Jakarta, bukadikit.co– Huawei, penyedia solusi TIK terkemuka di dunia, menjalin kemitraan strategis dengan Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) untuk mengembangkan kompetensi dan...

Dibuka Menteri Koperasi dan UKM, IDC 2022 Harap Industri Media Sehat

JAKARTA, bukadikit.co- Gelaran event Indonesian Digital Conference (IDC) 2022 yang digagas Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) resmi dilaksanakan di Ballroom 1 Hotel...